Palembang - Kelapa menjadi salah satu hasil pertanian yang cukup menjanjikan di Sumsel. Sebab, saat ini banyak di butuhkan di beberapa daerah dan negara maju sebagai bahan baku untuk makanan dan produk kesehatan serta kecantikan.


Atas dasar tersebut, Patani Sumsel Bersama Tim Survey dari Indofood, beberapa waktu yang lalu selama 4 hari menelusuri 4 kecamatan di Kabupaten Banyuasin. Dari Pantauan di lapangan, Ribuan tumpukan buah kelapa berjajar di sepanjang Jalan Tanjung Api-Api. Kelapa yang telah dikupas dari serabutnya tersebut, akan diambil dan dimasukan ke dalam kontainer dan langsung di ekspor ke Cina dan Jepang. 


Dirut Patani, Sarjan Tahir menyampaikan bahwa tujuan kegiatan Survey tersebut, agar mengumpulkan potensi Kelapa di Sumsel khususnya di Kabupaten Banyuasin. "Selanjutnya menelaah bentuk kerjasama dengan para petani dan pelaku bisnis kelapa untuk mengembangkan komoditi kelapa," kata Sarjan saat ditanya maksud survey, Senin (10/7). 


Dikatakan, salah satu hasil survey tersebut adalah Provinsi Sumsel perlu meningkatkan luasan dan peremajaan kebun kelapa dan membenahi tata niaga kelapa. "Karena jika ekspor kelapa utuh tidak diimbangi dengan produksi maka industri pengolahan kelapa di dalam negeri akan kekurangan pasokan," ungkapnya.


Ia mencontohkan, potensi ekspor arang kelapa memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan kelapa utuh. Karena sebagaimana diketahui, seluruh bagian dari buah kelapa bisa diolah, mulai dari sabut, buah kelapa, air kelapa, hingga tempurung.


"PATANI bersama Mitra merencanakan untuk bekerjasama mengembangkan komoditi kelapa, memfasilitasi para pelaku usaha di sektor perkebunan kelapa untuk menggenjot produk turunan karena nilai tambah yang lebih besar dari produk kelapa," ulasnya.  


Di sisi lain, lanjutnya, replanting juga perlu dilakukan agar produksi buah kelapa bisa stabil dalam 6-10 tahun mendatang. "Tanpa peremajaan kelapa secara massif, industri pengolahan kelapa akan mengalami kelangkaan bahan baku yang lebih berat," tutur politikus Partai Demokrat ini.  


Masih menurut Sarjam, dari data di lapangan juga diketahui bawa dari luasan yang ada baru sekitar 70an persen yang berproduksi sedangkan sisanya kebun yang tidak produktif. Dengan demikian, tingkat produktivitas kebun kelapa di Sumsel termasuk di Banyuasin masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan India, vietnam maupun Thailand. 


"Oleh karenanya, menurut sarjan Tahir, Pengembangan komoditi Kelapa di Sumsel sangat penting sekali dan harus terencana dengan baik," paparnya.


"Sehingga kegiatan Planting, Replanting, Trading maupun Agroindusrti kelapa tersebut harus bersinergi dan terkoordinir dengan baik sehingga baik. Petani maupun pelaku bisnis kelapa dapat merasakan nilai tambah yang lebih besar dari produk kelapa tersebut dan meningkatkan pendapatan asli daerah yang pada akhirnya membawa kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.  


Sumber: detiksumsel.com

Share this post on: